Yaumul Hisab, Perhitungan Yang Maha Halus

Yaumul Hisab, Perhitungan Yang Maha Halus

Beriman kepada hari kiamat sentiasa menjadi pegangan orang-orang yang siddiq dan bijak. Tetapi pada zaman kemajuan ini, masih adakah orang-orang yang bersih dalam memegang prinsip iman tersebut? Kejujuran seakan-akan mustahil ditegakkan di dunia yang dipalit oleh kebohongan, kepalsuan dan tipu daya. Demi ambisi dan cita-cita seseorang boleh memfitnah, membuat makar, menipu, merasuah atau membeli orang lain tanpa memikirkan akibat yang akan diterimanya di kemudian hari. Halal dan haram semakin kabur bahkan pandangan mata yang ditunggangi nafsu berusaha untuk menghalalkan segalanya dengan sorakan dan tepukan gemuruh dari syaitan-syaitan yang telah memenangi pertarungan melawan iman yang cahayanya semakin malap dan diganti dengan kebatilan yang hitam pekat.

Di manakah mereka meletakkan pandangan Allah? Allah Maha Melihat segala perbuatan yang dilakukan. Bukankah Allah tidak pernah tidur dan mengantuk? Manusia yang lalai dari perhatian Allah ini tidak berfikir sepak terjangnya itu pasti ada noktah penghabisannya. Bangkai yang tersimpan akan tercium baunya juga. Jika tidak di dunia ini, pasti di akhirat nanti. Segala amal perbuatan akan diperlihatkan tanpa tipuan dan pembelaan oleh sesiapapun. Hanya pemilik amal dan Allah SWT saja yang akan berurusan menyingkap segala-galanya, manakala makhluk lain semuanya menjadi saksi dan penonton. Firman Allah SWT: ”Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang tertulis di dalamnya dan mereka berkata: ”Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula yang besar melainkan ia mencatat semuanya, dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada di dalamnya. Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun.” (Surah al-Kahfi Ayat 49)

Siapakah yang dapat menghayati ayat di atas tadi?
Apakah yang bernama Abu Bakar al-Siddiq RA? Bapa kejujuran dan kebenaran. Ketika tampuk kepimpinannya berada pada saat akhir, dengan jiwa yang penuh rindu kepada Tuhannya, terlepaslah nyawa sang Khalifah dengan meninggalkan satu wasiat yang dipikulkan kepada puterinya, kekasih dan isteri Rasulullah SAW, Aisyah RA. Sejurus kematian ayahandanya, sang puteri menghadap Khalifah yang baru dilantik dengan membawa harta peninggalan yang bukan haknya. Demi menyaksikan pengisytiharan harta bekas Khalifah yang pertama itu, menitislah airmata Khalifah yang baru dilantik, Umar bin al-Khattab RA kerana harta itu sahaja yang ditinggalkannya dan itupun adalah hak Baitulmal. Seekor keldai yang digunakan untuk mengangkut air, sebuah bejana besar tempat memerah susu dan sehelai baju yang diterimanya untuk menerima utusan duta-duta negara luar. Semuanya diserahkan kembali kepada yang berhak.

Sungguh mengharukan kesucian dan kejujuran Abu Bakar al-Siddiq. Benarlah apa yang Rasulullah SAW sifatkan tentang iman Abu Bakar dalam sabdanya: ”Jika iman seluruh manusia dikumpulkan, nescaya lebih berat iman Abu Bakar”.

Manusia yang beriman kepada Hari Pembalasan akan bersungguh-sungguh mempersiapkan amalnya untuk hari yang amat penting itu. Siapa yang berbuat baik akan dibalas kebaikan dan perbuatan jahat juga akan dibalas dengan kejahatan. Itulah keadilan Tuhan yang abadi. Apabila Rasulullah SAW menerima wahyu terakhir sebelum kewafatan baginda, beliau mengumpulkan para sahabat. Peristiwa ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas: ”Wahai kaum muslimin sesungguhnya aku adalah Nabi, Penasihat bagi kamu semua, orang yang mengajak ke jalan Allah dengan izin-Nya, aku adalah bagi kamu umpama saudara kandung yang penuh kasih sayang dan seperti ayah yang belas kasihan. Barangsiapa yang mempunyai hak yang dapat dituntut hendaklah dia berdiri dan membalas kepadaku, sebelum aku dituntut qisas pembalasan pada Hari Kiamat.” Tidak ada seorangpun berdiri sehingga beliau bersabda dua kali dan tiga kali. Maka berdirilah sahabat lelaki bernama ’Ukasyah bin Mihshan ke hadapan. Dia berkata: ”Demi ayahku dan ibuku ya Rasulullah seandainya engkau tidak bertanya kepada kami berkali-kali tentu saya tidak mengemukakan hal ini. Sesungguhnya saya pernah bersamamu dalam Perang Badar, untaku mengikuti unta engkau. Maka aku turun dari untaku mengikuti engkau agar aku dapat mencium pahamu, tiba-tiba engkau telah mengangkat tongkat dan memukulkannya ke tubuh unta supaya berjalan lebih cepat dan engkau turut memukul pinggangku. Maka aku tidak tahu adakah engkau bersengaja atau hendak memukul unta sahaja? Rasulullah SAW bersabda: ”Wahai Ukasyah, Rasulullah dijauhkan bersengaja memukul engkau.” Lalu Nabi SAW menyuruh Bilal mengambil tongkatnya di rumah Fatimah. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: ”Wahai Ukasyah, pukullah jika engkau hendak memukul.” Jawab Ukasyah: ”Wahai Rasulullah engkau memukulku saat aku tidak berbaju.” Lalu Rasulullah membuka bajunya sehingga kaum muslimin menangisi keadaan itu. Ketika Ukasyah melihat badan Rasulullah yang putih dan bersinar serta merta ia memeluk dan menciumnya seraya berkata: ”Aku tebus dirimu dengan jiwaku ya Rasulullah, siapakah yang sampai hati mengqisasmu, sesungguhnya aku melakukan ini supaya tubuhku bersentuhan dengan tubuhmu yang mulia sehingga Allah menjagaku dari neraka sebab kehormatanmu. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Demikianlah Rasulullah SAW mengajar kita untuk menghisab diri sebelum menghadap Hari Penghisaban. Hak orang lain akan dituntut selagi orang itu tidak merelakannya kepada kita. Kepada orang-orang yang berjiwa besar dengan kejujuran dan kebenaran, semaklah hadis yang terakhir sebagai tatapan pandangan mata batin yang tembus ke dalam tasik suci jiwa anda. Rasulullah SAW bersabda: ”Orang yang muflis di kalangan umatku ialah: Seseorang yang datang pada hari kiamat dengan pahala sembahyang, puasa dan zakat. Tetapi dia pernah mencaci si fulan, menuduh si fulan, menumpah darah si fulan dan memukul si fulan. Maka akan diberikan kepada orang-orang yang teraniaya itu dari pahala kebaikan orang tadi sehingga apabila telah habis pahalanya sedangkan belum semua terbayar, maka akan diambil ganti dari dosa-dosa orang-orang itu dan dibebankan kepadanya dan dia dicampakkan dalam neraka kerananya.” (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...Share on Facebook
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Powered by WordPress | Designed by: buy backlinks | Thanks to webdesign berlin, House Plans and voucher codes